Ratusan Warga Datangi Wakil Bupati Minta Perlindungan // Rumah Dibakar, Lahan di Rampas, Pengajian di Bubarkan

MURATARA-MR- Ratusan Dusun V, Desa Trans Air Bening, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Muratara, meminta perlindungan ke amanan ke wakil Bupati Muratara. Warga mengaku, resah, teracam, tanah mereka dirampas, rumah dibakar, diusir dari permukiman, pengajian dibubarkan, dan tidak boleh melaksanakan jumaatan. Aksi rasis dan anarkis itu, dilakukan oleh salah satu oknum warga yakni Jais yang mengklaim lahan milik warga.
         Sungkono, warga Dusun V, Desa Trans Air Bening, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Muratara mengaku, rata-rata warga pendatang di Desa Trans Air Bening, Kecamatan Rawas Ilir, sudah tinggal di wilayah Muratara sejak 2015. Mereka datang awalnya direkrut oleh Jais, dengan membayar Rp300 ribu dan mendapatkan satu paket lahan.
           Namun setelah warga menggarap lahan, mereka mendapat intimidasi dari Jaiz dan keluarganya. Bahkan, semua aktivitas warga yang berkumpul seperti hajatan, jumaatan dan peribadatan dilarang hingga di bubarkan. "Kami resah dan selalu diancam, kami sudah tidak nyaman karena selalu di ganggu. Kami sudah melaporkan kejadian itu ke kepala Desa, lalu ke pihak kepolisian namun sama saat ini belum ada tindakan dari pihak kepolisian," bebernya.
          Warga mengaku, selalu diancam menggunakan Sajam dan senjata api rakitan, bukan hanya terhadap kepala keluarga namun seluruh keluarganya menjadi korban pengancaman. Selain dirampas, kebun, rumah dibakar, pelaku juga sering melakukan pelecehan sexual terhadap istri warga.
           "Kami sudah menghadap Bupati dua kali, tapi Belum bisa karena bupati sibuk, lalu kami datang ke rumah wakil bupati, kami minta perlindungan dari Pemerintah karena kita tinggal dan mencari hidup di wilayah Muratara," kata warga.
           Sementara itu, Giman salah satu warga yang ikut diancam pelaku, mengaku sudah selama 4 bulan terakhir dia terusir dari kampung tersebut. Dia tidak bisa pulang karena takut di cari pelaku dan rumahnya dibakar. "Saya dipaksa membayar Rp5 juta untuk mendapat lahan yang sudah saya garap. Tadinya kita beli satu paket Rp300ribu, berupa hutan dan semak belukar. Tapi setelah kami garap dan tanaman, kebun kami diambil," bebernya.
         Warga mengaku, setiap permasalahan itu terjadi pelaku selalu membawa mereka ke Desa Ketapat Bening, sementara lahan itu berada di Desa Air Bening. "Kami sudah minta Kepala Desa Kami untuk memfasilitasi masalah itu, sampai ke pihak kepolisian. Kami minta tolong pak, lindungi kami, kami datang ke sini karena kami takut diancam," bebernya.
           Sementara itu, Kepala Desa Air Bening Marsup mengatakan, setidaknya ada sekitar 67 Kepala Keluarga warga pendatang yang mendapat intimidasi dan pengancaman dari pelaku. Dia mengatakan, awalnya lahan yang dijual Jaiz tersebut merupakan exks lahan PT Barito di Desa Air Bening.
          Dia membenarkan banyak mendapat laporan dari warga pendatang yang terancam, rumah dibakar, sampai dianiaya dan istrinya dilarikan oleh pelaku, dan beberapa warga di bacok dengan Sajam. "Kita sudah fasilitasi melapor ke pihak kepolisian, tapi sampai sekarang belum ada tindakan. Kami kasihan dengan mereka, walaupun mereka pendatang tetapi mereka masyarakay dan berhak mendapatkan kedudukansama di mata hukum," ungkapnya.
       Marsup membenarkan, adanya pelecehan sexual terhadap istri warga pendatang yang dilakukanoleh pelaku. "Sampai begitu, istrinya diambil pelaku setelah di pakai di kembalikan. Mereka ini takut, karena diancam oleh pelaku dan keluarganya itu, mereka semacam preman," kata kades.
          Dia juga sengaja membawa warga Trans Air Bening, menghadap Bupati dan Wakil Bupati Muratara, agar semua keluhan mereka bisa di ungkapan secara langsung. "Karena sudah dua kali tidak bisa ketemu dengan Bupati, kami akhirnya datang ke wakil Bupati supaya warga bisa mengungkapkan keluhan mereka," timpalnya.
        Sementara itu, Wakil Bupati Muratara H Devi Suhartoni mengatakan, tidak membenarkan adanya pengancaman dan pengusiran terhadap warga. Meski yang tinggal di Muratara masyarakat dari Jawa, aceh, Padang mereka berhak sama mendapatkan perlindungan dan keamanan.
          "Di negara ini tidak boleh ada ancam-ancaman, hidup di NKRI itu cuma satu patuhi hukum. Mau dari jawa, mau dari Madura, Kalimantan mau dari bulan, ‎kalau sudah di Muratara mereka warga Muratara wajib dilindungi," katanya
         H Devi Suhartoni menegaskan, pihaknya meminta warga yang terzolimi dan dirampas tanah mereka oleh pelaku, agar membuat daftar. Termasuk berkas laporan warga ke pihak kepolisian yang sudah pernah dilakukan. "Saya akan Pertanyakan kenapa belum ada tindakan, saya akan koordinasi dengan Kapolres dan melaporkan kejadian ini ke Bupati," ungkapnya.
           Wakil bupati Muratara mengaku, cukup kaget dengan laporan warga Desa Air Bening tersebut, terutama terhadap keluhan warga pendatang yang di zolimi sampai rumah mereka dibakar, pengajian dibubarkan dan pelarangan terhadap kegiatan ke agamaan. "Saya sangat kaget jika sampai hak warga diambil‎‎, siapa pun orang di Muratara mau KTP Muratara atau tidak, jika sudah datang dan tinggal di Muratara, akan kami lindungi‎," tegasnya.(cj13)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.